COPAS:
SUSU SAPI DAN ZAT ‘LILIN’ PADA KULIT BUAH
Dear dr Tan, saya senang sekali membaca rubrik yang Dokter asuh. Jawaban dokter
dari setiap pertanyaan sangat tegas, lugas dan cerdas.
Saya pernah dengar seminar dari salah seorang ahli gizi kalau makan buah apel
itu harus dengan kulitnya karena sebagian besar vitamin dan mineralnya ada di
kulit. Tetapi kulit buah apel itu kan juga dilapisi lilin, apakah aman lilin
dikulit buah apel itu untuk dikonsumsi?
Menurut ahli gizi itu juga, manusia harus mengonsumsi susu sejak lahir
hingga menutup mata (meninggal) sedangkan menurut dokter Tan manusia hanya
mengonsumsi susu sejak 0-2 tahun saja itupun hanya ASI. Saya yang orang awam ini
jadi bingung Dok. Anak saya sudah berumur 3 tahun, apakah anak saya masih perlu
mengonsumsi susu?
Saya harap Dokter berkenan untuk menjawabnya.
Veni, Bekasi
Dr. Tan Shot Yen:
Hai Veni,
Jika anda mengikuti rubrik saya sungguh-sungguh dan MEMBACA SEMUA INFORMASI
BERMANFAAT melalui jalur internet dengan situs-situs yang dapat
dipertanggungjawabk an sebagaimana pernah saya kutipkan sebelumnya, tentu anda
tidak akan bingung. Anda akan terbiasa bertanya,”Mengapa?” dan “Mengapa?” lagi.
dan selanjutnya menjadi kritis dengan jawaban yang diberikan sebelum ‘menelan’
mentah-mentah jawaban dari siapa pun, pakar di bidang apa pun.
Letak permasalahannya bukan pada perdebatan atau siapa yang salah dan siapa yang
benar. Jika pendapat pakar (yang bisa salah bisa benar) saja yang dijadikan
pegangan, maka kepentingannya terletak justru pada si pakar tersebut – dan
apa/siapa yang dibelanya, ada unsur kepentingan apa di balik opini-opininya,
pihak mana yang mendukungnya untuk menyuarakan pendapatnya itu. Begitu pula
dengan menghadapi semua paparan saya. Karena itu saya selalu sertakan bacaan
atau sumber informasi lain sebagai pembanding, jika pembaca membutuhkannya untuk
memperluas pandangan serta menilai. Sehingga pada akhirnya kita sama-sama paham,
siapa yang diuntungkan atau sebenarnya masyarakat diperlakukan sebagai tujuan
atau sekadar dijadikan sarana diam-diam demi kepentingan yang sesungguhnya BUKAN
untuk setinggi-tingginya kesehatan manusia. Karena itu, ilmu kesehatan sangat
tidak mungkin berdiri sendiri. Kita perlu merujuk pada antropologi, sejarah pola
hidup dan pola makan manusia, sejarah kepentingan teknologi industri pangan
maupun kesehatan, dan kembali lagi : apakah cocok untuk kesejahteraan manusia
yang optimal lahir-batin- mental-spiritual ?
Saya tidak pernah paham dengan alasan mengapa manusia harus mengonsumsi susu
selama usia pertumbuhan yang bukan dari ASI, apalagi sepanjang hayat -
seakan-akan bahasanya seperti yang sering dipakai di kalangan pergaulan anak
gadis saya: “Nggak cocok? Paksain ajaaaaaaa!!”
1. Kita perlu belajar dari hewan menyusui. Bahwa susu hanya cocok sebagai
“makanan antara”, ketika bayinya belum sanggup mengunyah dan mencerna. Begitu
bisa tegak, berjalan, mencari makan dan mampu mengunyah makanan padat, maka SUSU
BUKAN LAGI KONSUMSI ALAMIAHNYA. Saya tidak menyamakan manusia dengan hewan
menyusui, tapi kita perlu belajar dari alam, fakta dan menyadari berbagai unsur
permainan “kepentingan yang lain” di balik jargon kesehatan yang hanya dipakai
untuk nilai jual. Faktanya, enzim pencernaan manusia untuk mencerna susu juga
sudah mulai menyusut pada usia 2-3 tahun. Berbarengan dengan itu, gigi manusia
pun SUDAH KOMPLIT di usia 2 tahun. Aha! Cocok, bukan? Lepas dari susu, kunyah
makanan padatnya!
2. Alam tidak menyediakan susu apa pun selain ASI untuk konsumsi manusia. Susu
sapi hanya untuk generasi penerus sapi. Susunannya pun sama sekali tidak cocok
untuk manusia. Sekali lagi, komposisi susu sapi hanya untuk membuat anak-anak
sapi gemuk, bertulang besar, tidak perlu pandai apalagi menikmati umur panjang.
Susu sapi alami sama sekali tidak cocok untuk manusia. Karena “dipaksakan”
supaya cocok, maka agar tidak mengandung bakteri, manusia melakukan
sterilisasi susu antara lain dengan pasteurisasi – efek sampingnya? semua zat
gizi susu rusak total (karena itu setelah proses sterilisasi perlu diimbuhkan
berbagai zat dari luar supaya kelihatan “bergizi”-proses pasca sterilisasi
inilah membuat heboh ‘menyusup’nya bakteri beberapa waktu yang lalu). Begitu
pula agar kolesterol susu sapi yang tinggi tidak membuat manusia kegemukan dan
naik kolesterolnya, ditemukanlah teknik yang membuat susu sapi mendapat istilah
‘skim’, karena minyaknya ditarik/diambil – efek sampingnya? manusia tetap gemuk.
Karena bukan melulu kolesterol yang bermasalah, tapi GULA SUSU (Laktosa) dan
KEASAMANNYA yang membuat tulang justru semakin keropos. Supaya “cocok” juga
untuk kebutuhan kecerdasan anak manusia, maka pemaksaannya adalah lewat jalur
teknologi. Susu sapi yang miskin gizi itu ditambahkan zat-zat/asam amino yang
diduga sebagai bagian dari kebutuhan perkembangan saraf dan otak. Padahal,
kecerdasan LEBIH DARI SEKADAR ASAM AMINO atau zat yang diimbuhkan tersebut.
Kecerdasan anak berkaitan sangat erat dengan IMD (Inisiasi Menyusu Dini) saat
anak mengintegrasikan KECERDASAN PERTAMANYA secara instinktual untuk merayap
menemukan puting susu ibu selepas dilahirkan sekaligus gerakan merayap tersebut
menyelesaikan dan mengintegrasikan refleks-refleks primitifnya! Kecerdasan
terletak pada antibodi prima MANUSIA yang alami, yang hanya terdapat dalam ASI
hingga usia 2 tahun saja. Kecerdasan juga berhubungan dengan pematangan
“sambungan-sambungan sistem syaraf” dari 3 susunan otak manusia (reptilian brain
yang primitif: hanya mengurus sistem pertahanan diri/survival, mamalian brain
yang berfungsi mengenali cinta, rasa aman, peduli, kekeluargAan dan neo-mamalian
brain yang baru setelah usia 6 tahun mengenal istilah cara pikir ‘rasional’.
Kecerdasan manusia bukan melulu tentang pandai berhitung dan berbahasa asing,
tapi cerdas secara emosional, spiritual. Sehingga yang membuat manusia maju dan
makmur bukan hanya mereka yang ber IQ (Intelligence Quotient) tinggi, tapi juga
ber EQ (Emotional Quotient) tinggi sehingga mampu menjalin relasi, serta ber SQ
(Spiritual Quotient) membanggakan- sehingga mampu bersyukur, berhubungan mesra
dengan Penciptanya. Mana ada anak sapi bisa begini?
3. Jika argumen bahwa susu diasup sebagai sumber kalsium (yang dipercaya
menguatkan tulang), maka perlu ditegaskan kembali : APAKAH HANYA SUSU
SATU-SATUNYA SUMBER KALSIUM? Saya mencurigai ‘nasehat-nasehat’ yang menganjurkan
orang minum susu akhirnya sebatas karena penelitian yang sangat sepihak, sangat
kadaluwarsa bahkan, dan celakanya : karena ‘kepercayaan’ seri nutrisi jaman
penjajahan Belanda yang masih berurat akar. Tulang pun menjadi kuat BUKAN
SEMATA-MATA HANYA KARENA KALSIUM. Melainkan kita perlu mengasup Magnesium, Seng
(Zinc), Boron, Mangaan, Provitamin D-3, dll. Nenek moyang kita sebelum mengenal
pabrik susu tidak pernah menderita patah tulang akibat keropos sebelum waktunya.
mengapa? sekali lagi, mereka mengonsumsi makanan ALAM yang DIKUNYAH, yang juga
memperkuat tulang selepas susu ibu di atas 2 tahun! Saya pernah menulis di
tabloid ini pula, bahwa mengonsumsi 1 cangkir selada bokor (iceberg lettuce)
memberikan kekuatan tulang yang di hari tua, mencegah terjadinya patah tulang
panggul! (telah dirisetkan oleh para ahli dari Harvard University, Amerika
Serikat yang melibatkan 72.000 wanita). Kalsium pada susu yang bukan ASI sekali
lagi saya tegaskan, TIDAK DIKENAL oleh tubuh manusia. Oleh karenanya bersifat
“Non-bio-available”- jadi, bukannya membuat tulang lebih kuat, malah kalsium
akan ‘nyasar’ ke tempat yang salah…dan tempat yang paling sering menjadi
sasaran pendaratan kalsium adalah.. dinding pembuluh darah! Bukannya mendapatkan
manfaat positif dari susu, malah mendapat bonus penyakit yang sangat tidak
menyenangkan: penebalan dinding pembuluh darah dan segala akibatnya (sebagaimana
telah dipaparkan dalam salah satu jurnal kedokteran anak oleh Dr. Frank Oski,
Upstate Medical Center Department of Pediatrics, USA). Orang Amerika dan Eropa
Utara mengonsumsi 800 mg – 1200 mg kalsium sehari, tapi tetap saja mereka lebih
menderita osteoporosis/ keropos tulang daripada orang Asia dan Afrika yang
mengonsumsi 300 mg – 500 mg kalsium per hari. Mengapa? daging merah, gula,
tepung dan bahan makanan berupa bumbu non-alam menyebabkan keasaman darah
meningkat. Untuk menetralisirnya, tubuh mengambil kalsium (yang bersifat
alkalis) dari tulang. Sehingga masalah osteoporosis bukanlah bahwa seseorang itu
tidak cukup memakan kalsium. Masalahnya adalah mereka kehilangan kalsium. Dengan
demikian, mengasup lebih banyak kalsium ke dalam tubuh bukanlah jawabannya,
karena Anda bisa kehilangan lebih banyak daripada yang Anda asup (misalnya
dengan tetap memakan daging merah, gula, terigu, beras, berbagai saus dan kecap
produksi pabrik, dll). Apabila ekstra kalsium yang dikonsumsi berasal dari
makanan yang mengandung protein tinggi seperti susu, keju dan es krim, keadaan
menjadi lebih buruk karena makanan ini adalah pembentuk asam yang sangat tinggi.
Tubuh semakin kehilangan kalsium.
4. Dari hasil konvensi dunia (World Breastfeeding Week, 1-7 Agustus 2006),
Elisabeth Sterken, BSc.MSc Nutritionist INFACT Canada/North America menuliskan
bahwa susu bukan ASI menyebabkan: meningkatnya risiko asma, alergi, penurunan
perkembangan kecerdasan, peningkatan risiko infeksi saluran napas atas,
kekurangan nutrisi yang tidak didapatkan dalam susu non ASI, risiko kanker masa
anak, risiko penyakit kronik, risiko diabetes, risiko penyakit kardiovaskuler,
risiko kegemukan, risiko infeksi pencernaan, risiko radang telinga, risiko semua
efek samping akibat PENAMBAHAN ZAT YANG TIDAK SEMESTINYA DALAM SUSU BUBUK/CAIR
(sudah terbukti mulai bakteri hingga melamin, bukan? tunggu saja ‘seri
berikutnya’) Anda belum mengikuti pelatihan saya mengenai “teknik membaca label
makanan produksi pabrik”, bukan? Naaaaaahh!! ada baiknya anda mulai membalik
kemasan susu anak anda. Banyak istilah “ajaib” yang membuat anda mengerenyitkan
dahi. Semua susu sudah mengandung laktosa/gula susu, seperti saya sebut di atas.
Namun supaya “betah” di lidah anak yang doyan manis “tingkat tinggi” (yang
penting doyan, kan? Mana ada pabrik mau peduli dengan masalah kelebihan
karbohidrat buruk!) tetap diimbuhi “sukrosa” (gula rantai panjang!) atau “corn
syrup” (gula ‘pembunuh’ nomor satu di Amerika Serikat), belum lagi “perisa”
(Apakah anda paham betul istilah ini? Nama lainnya adalah rasa SINTETIS!), dan
susunya pun berasal dari “skimmed, powdered, milk”. Bahkan susu cair pun melalui
proses skim dahulu. Anda perlu pun bisa terheran-heran, mengapa susu yang sudah
cair perlu dijadikan bubuk, lalu dibuat ‘cair’ lagi. 30-40 tahun yang lalu
(ketika anak Indonesia mentah-mentah menolak susu karena tidak doyan bau susu
dan harus ‘dipaksa’ minum), label komposisi susu bubuk cukup tertulis: WHOLE
MILK. Titik. Risiko whole milk pun membuat manusia terpaksa seperti sapi
sungguhan: gemuk, bodoh, lamban, berusia pendek).
Semestinya para pakar yang memang mau menyuarakan tentang susu, sebelumnya perlu
mengikuti konvensi dunia serupa ini yang memang diselenggarakan bagi para pakar,
pengayom kesehatan dan informasi yang terbaru bagi masyarakatnya. Konvensi
ilmiah yang berkualitas tinggi dan kredibel tentu diselenggarakan tanpa sponsor
pabrik teknologi pangan atau farmasi yang mempunyai kepentingan di dalamnya!
5. Sebagai tambahan, salah satu pilihan : anda bisa membuka situs Dr.
Mercola, www.mercola. com, ketik “milk” (atau topik apa pun yang anda ingin
ketahui) di kolom mesin pencari artikelnya. Anda akan berkelana ke ‘dunia baru’
dan membaca berbagai hal yang telah diperjuangkan banyak orang saat ini,
sementara negara kita masih menjadi ‘keranjang pembuangan’ berbagai produk yang
sudah tidak lagi diterima masyarakat dari mana produk itu berasal. Saya sangat
menyesali kepercayaan dan mitos akan susu ini merasuk di benak ibu-ibu yang
hidup dengan ekonomi pas-pas-an, sehingga ada faham ‘asal anak sudah minum susu,
rasanya aman!’ – padahal gizi anak membutuhkan lebih. Anak bergigi membutuhkan
makanan untuk dikunyah, dengan sumber karbohidrat- protein-dan lemak yang jauh
lebih tinggi tingkatannya. Bukan susu yang berasal dari sapi dengan pakan buatan
manusia bernama MBM/Meat-Bone- Meal yang menyebabkan sapi membentuk protein
asing bernama Prion sebagai cikal bakal sapi gila/madcow (Lihat Nyata edisi II
Agustus
08, edisi IV Mei 08) Anak-anak kita bertulang dan bergigi kuat hingga akhir
hayatnya karena gaya hidup sehat, bukan minum susu segelas tiap malam sambil
terpana di depan televisi atau game komputer, yang lincah hanya kedua jempol
tangan kanan-kirinya. Gaya hidup sehat mengandaikan makanan alam lepas campur
tangan industri, tubuh bergerak keseluruhan bermain petak umpet, lompat tali
atau layang-layang.
Dengan pemahaman yang bijak dan tercerahkan, anda juga akan paham bahwa yang
disebut “lilin” pada kulit apel sama sekali bukanlah sejenis lilin penerang
kamar di saat mati lampu atau “malam” (bhs.Jawa) mainan anak-anak yang dapat
dibuat berbagai bentuk itu. Buah dengan kandungan vitamin C yang mudah tereduksi
(rusak) oleh panas tentu secara alamiah dilindungi melalui kulitnya. Kulit
mengkilap (yang anda pikir lilin itu) juga mencegah penguapan air berlebihan
dari buah apel. Karenanya, buah apel bisa bertahan hingga sebulan di lemari es
yang kering! Seperti juga mangga yang dipertahankan airnya dan ketebalan daging
buahnya oleh kulitnya. Saya tidak pernah mengupas kulit mangga Indramayu. Mangga
eksotis yang mengkal, harum, padat seksi dicocol dengan cabe rawit bergerus
garam.. Aduuuhhh nikmatnya hingga tetes liur terakhir… Mmmmmhhh!
sumber asli ga tau dari mana, tapi saya copas dari sini. (Postingan di grup ReOS).




